Aryashfa's Blog
Another Blog Experience

Unsur-unsur Musik

UNSUR-UNSUR MUSIK

  1. TINGGI NADA (PITCH)

    Dalam bentuk yang paling sederhana, musik terdiri atas melodi tunggal yang disebut dengan monofoni. Yang berisi komponen-komponen penting seperti tinggi rendahnya nada, panjang pendeknya nada, keras lembutnya nada dan kualitas atau warna suaranya.

    Walaupun sebagian besar budaya musik dunia memiliki konsep tentang tinggi rendahnya nada (pitch), tidak semua musisi dari berbagai latar belakang budaya tersebut mampu memahami dan mempraktikannya. Hal ini terjadi karena penguasaan pitch hanya bisa dicapai dengan belajar dan berlatih.

    Pitch atau tinggi rendahnya nada sangat tergantung pada getaran atau frekuensi gelombang suara yang dihasilkan. Semakin banyak getarannya, semakin tinggi nadanya, demikian juga sebaliknya.

    Nada-nada dalam sebuah lagu atau musik, telah memiliki takaran getaran atau besarnya frekuensi getarannya masing-masing. Nada do misalnya, memiliki besar frekuensi getaran (pitch) yang berbeda dengan nada re atau mi.

    Dengan demikian, dalam bernyanyi, bila besarnya frekuensi getaran suara kita kurang atau lebih dari frekuensi getaran sebuah nada, maka nada yang kita nyanyikan akan terdengar sumbang atau fals.

    Para ahli kemudian menyusun nada-nada dasar berdasarkan tinggi rendahnya nada atau besar kecilnya frekuensi.

    Dalam kenyataannya, nada-nada tidak hanya berjumlah 7 buah nada. Masih ada sejumlah nada yang memiliki frekuensi getar 2 kali lebih tinggi, bahkan 3 kali, 4 kali atau lebih dari nada-nada tersebut. Selain itu ada pula nada-nada yang memiliki frekuensi getar 2 kali lebih rendah (bahkan 3 kali, 4 kali atau lebih) dari nada-nada tersebut. Nada-nada inipun menghasilkan bunyi yang lebih tinggi, maupun lebih rendah dari nada-nada tersebut. Inilah yang disebut dengan oktaf, yaitu nada yang memiliki tinggi nada 2 kali lebih tinggi atau lebih rendah dari nada dasarnya.

  2. TANGGA NADA (SCALE)

    Dalam notasi, nada-nada disusun berdasarkan tinggi rendahnya frekuensi. antara nada-nada tersebut diberi jarak ½,1, 1 ½, dan 2. Urutan atau susunan nada seperti ini disebut dengan tangga nada (scale).

    Ada dua jenis tangga nada, yaitu tangga nada diatonis dan tangga nada pentatonis.

    Tangga Nada Diatonis

    Tangga nada diatonis terdiri dari 7 buah nada yang berjarak 1 atau ½ nada.

    Tangga nada diatonis terbagi lagi menjadi 2 kelompok yaitu tangga nada diatonis mayor dan tangga nada diatonis minor

    Tangga nada diatonis mayor umumnya dipakai dalam lagu-lagu yang bernuansa gembira, sedangkan tangga nada diatonis minor umumnya dipakai dalam lagu yang bernuansa sedih.

    Tangga nada diatonis mayor

         1     1 ½ 1 1 1 ½

    Tangga nada diatonis minor

         1 ½ 1 1 ½ 1 1

    Tangga Nada Pentatonis

    Tangga nada pentatonis terdiri atas 5 nada pokok. Kelima nada tersebut disusun tidak berdasarkan jarak antar nadanya, tetapi berdasarkan urutannya dalam tangga nada. Tangga nada pentatonis banyak digunakan pada musik daerah. Sebagai contoh untuk musik daerah Jawa Tengah, tangga nada pentatonisnya terbagi lagi menjadi 2 yaitu pelog dan slendro.

  3. IRAMA

    Ketika mendengar alunan lagu atau musik, sering sekali tangan, kepala, atau kaki kita ikut bergerak. Tidak jarang kita mengetukkan kaki kita pada lantai, atau menggoyang ke kiri dan ke kanan secara teratur dan berulang-ulang. Alunan nada-nada lagu atau musik yang teratur seperti gerakan tangan, kaki, atau kepala itulah yang disebut irama. Jadi, irama adalah alunan nada-nada yang konsisten dan berulang-ulang dengan suatu pola tertentu.

    Pola irama sebuah lagu atau musik ditunjukkan oleh bunyi-bunyi ritmis dalam sebuah lagu atau musik.

  4. BIRAMA

    Dalam sebuah penulisan lagu, irama berkaitan erat dengan birama. Irama adalah alunan nada-nada dalam lagu yang dimainkan secara teratur dan membentuk sebuah pola tertentu. Pola irama ini dapat dikelompokkan berdasarkan ketukannya menjadi beberapa unit hitungan. Pengelompokan ketukan menjadi beberapa unit hitungan ini disebut dengan birama.

    Birama diperoleh dari adanya ketukan yang bertekanan (tesis) dan ketukan yang tidak bertekanan (arsis). Ketukan yang bertekanan selalu jatuh pada ketukan pertama dalam rangkaian sebuah birama.

    Berdasarkan tesis dan arsis, para ahli kemudian membuat pengelompokan birama lagu. Umumnya para ahli menggunakan angka pecahan untuk pengelompokan tersebut. Angka pecahan ini disebut dengan tanda birama.

    Angka pembilang menunjukkan jumlah ketukan atau durasi nada-nada tersebut dalam satu ruas birama, sedangkan angka penyebut menunjukkan nilai nada setiap ketukannya. Contoh :

  • Birama ¾ artinya nada-nada setiap ruas birama berdurasi 3 ketukan; setiap ketukannya bernilai ¼.
  • Birama 4/4 artinya nada-nada setiap ruas birama berdurasi 4 ketukan; setiap ketukannya bernilai ¼.
  • Birama 6/8 artinya nada-nada setiap ruasnya berdurasi 6 ketukan; setiap ketukannya bernilai 1/8.
  1. HARMONI

    Harmoni adalah hubungan antara nada satu dengan nada yang lain. Harmoni meliputi interval dan akor. Interval adalah jarak antara nada satu dengan nada yang lain. Akor adalah paduan beberapa nada yang dibunyikan serempak atau bersamaan.

    1. Interval

      Jarak antara nada satu dengan nada yang lain dalam sebuah tangga nada berbeda-beda. Pada tangga nada diatonis mayor di bawah ini :


      maka jarak interval antar nadanya adalah :

      c – c jarak interval 0, disebut prime murni

      c – d jarak interval 1, disebut sekonde besar

      c – e jarak interval 2, disebut terts besar

      c – f jarak interval 2½, disebut kuarts murni

      c – g jarak interval 3½, disebut kuint murni

      c – a jarak interval 4½, disebut sekt besar

      c – b jarak interval 5½, disebut septime besar

      c – c’ jarak interval 6, disebut oktaf murni

    2. Akor

      Peranan dan Fungsi Akor

      Peranan dan fungsi akor yang disusun berdasarkan trisuara atau triad chord dalam tangga nada mayor diatonis dengan kunci do=C adalah sebagai berikut :

      Akor Pertama (I) atau C Mayor (C-E-G) disebut sebagai Tonika (Tonic)

      Akor Kedua (II) atau D Minor (D-F-A) disebut sebagai Super Tonika (Super Tonic)

      Akor Ketiga (III) atau E Minor (E-G-B) disebut sebagai Median (Mediant)

      Akor Keempat (IV) atau F Mayor (F-A-C) disebut sebagai Sub Dominan (Sub Dominant)

      Akor Kelima (V) atau G Mayor (G-B-D) disebut sebagai Dominan (Dominant)

      Akor Keenam (VI) atau A Minor (A-C-E) disebut sebagai Sub Median (Sub Mediant)

      Akor Ketujuh (VII) atau B Half Diminished (B-D-F) disebut sebagai Leading Tone

      Fungsi Akor : Akor Pokok

      Jika kita melihat pembagian akor berdasarkan peranan dan fungsinya, maka kita akan bisa melihat 3 (tiga) macam jenis akor yang utama, yaitu akor mayor, akor minor, dan akor half diminished. Tiga akor mayor yang telah disebutkan di atas inilah yang disebut sebagai akor pokok atau akor utama (primary chords). Jadi sebagai akor pokok adalah Tonika, Sub Dominan, dan Dominan.

      Untuk tangga nada dengan kunci do = C, maka akor pokoknya yang merupakan akor mayor adalah :

      Akor C Mayor yang berperan sebagai Tonika

      Akor F Mayor yang berperan sebagai Sub Dominan

      Akor G Mayor yang berperan sebagai Dominan

      Untuk selanjutnya Tonika akan disingkat T, Sub Dominan disingkat S, dan Dominan disingkat D.

      Akor pokok untuk tangga nada dengan kunci yang lain, adalah sebagai berikut :

      Misalnya, Do = G, maka G Mayor adalah sebagai T, C Mayor sebagai S dan D Mayor sebagai D.

      Misalnya, Do = D, maka D Mayor adalah sebagai T, G Mayor sebagai S dan A Mayor sebagai D.

      Dari sini kita akan lebih mudah memahami peranan dan fungsi akor.

      Mari kita lihat lebih mendalam, ternyata akor G Mayor bisa memiliki peranan dan fungsi yang berbeda jika terjadi perbedaan kunci tangga nadanya.

      Pada tangga nada dengan do = C, maka akor G Mayor berfungsi sebagai Dominan (D).

      Pada tangga nada dengan do = G, maka akor G Mayor berfungsi sebagai Tonika (T).

      Pada tangga nada dengan do = D, maka akor G Mayor berfungsi sebagai Sub Dominan (S).

      Fungsi Akor : Akor Pembantu

      Sedangkan akor minor dalam peranan dan fungsi akor di atas tadi, yaitu Super Tonika, Median dan Sub Median disebut sebagai akor pembantu. Pada beberapa teori musik dalam ilmu harmoni, penyebutan Super Tonika, Median dan Sub Median sebagai akor pembantu lebih disederhanakan berkaitan dengan peranan dan persaudaraannya dengan akor pokok.

      Istilah yang lain tersebut adalah : (harus selalu diingat, yaitu saat mempelajari peranan dan fungsi akor harus hanya pada satu tangga nada mayor diatonis dalam satu kunci saja, kita ambil contoh dalam hal ini yaitu tangga nada mayor diatonis dengan kunci do = C)

      Super Tonika disebut sebagai Sub Dominan Pembantu (Sp), yaitu akor D Minor.

      Median disebut sebagai Dominan Pembantu (Dp), yaitu akor E Minor.

      Sub Median disebut sebagai Tonika Pembantu (Tp), yaitu akor A Minor.

      Bagaimana untuk tangga nada dengan kunci yang lain?

      Misalnya, Do = G, maka A Minor adalah sebagai Super Tonika (Sp), B Minor sebagai Median (Dp) dan E Minor sebagai Sub Median (Tp).

      Misalnya, Do = F, maka G Minor adalah sebagai Super Tonika (Sp), A Minor sebagai Median (Dp) dan D Minor sebagai Sub Median (Tp).

      Sehingga dapat kita lihat sebagai berikut :

      Pada tangga nada dengan do = C, maka akor A Minor berfungsi sebagai Sub Median atau Tp.

      Pada tangga nada dengan do = G, maka akor A Minor berfungsi sebagai Super Tonika atau Sp.

      Pada tangga nada dengan do = F, maka akor A Minor berfungsi sebagai Median atau Dp.

      Sebagai satu kesimpulan untuk sementara dalam artikel ini, yaitu bahwa akor pokok atau akor utama atau primary chords bersifat akor mayor, dan dalam satu tangga nada mayor diatonis hanya ada 3 (tiga) akor saja, yaitu:

      Tonika

      Sub Dominan

      Dominan

      Sedangkan akor pembantu bersifat akor minor dan juga hanya ada 3 (tiga) saja, yaitu :

      Super Tonika (Sub Dominan pembantu atau Sp)

      Median (Dominan pembantu atau Dp)

      Sub Median (Tonika pembantu atau Tp)

Belum Ada Tanggapan to “Unsur-unsur Musik”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: