Aryashfa's Blog
Another Blog Experience

Musik Keroncong

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
Sebuah kehilangan besar buat dunia musik di Indonesia, Sang Maestro Keroncong telah pergi…..
Sebuah pesan terakhir disampaikan, agar musik keroncong tetap dilestarikan.

Berikut ini adalah sebuah tulisan tentang musik keroncong, karya siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 1 Weleri.
Penasaran…, silahkan didownload
musik keroncong

Yang pengin lagunya Gesang-Bengawan Solo, download di sini

Gesang-Bengawan Solo

Pengertian Keroncong

Keroncong adalah sejenis musik Indonesia yang memiliki hubungan historis dengan sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado. Sejarah keroncong di Indonesia dapat ditarik hingga akhir abad ke-16, di saat kekuatan Portugis mulai melemah di Nusantara. Keroncong berawal dari musik yang dimainkan para budak dan opsir Portugis dari daratan India (Goa) serta Maluku. Bentuk awal musik ini disebut moresco.

2.3  Sejarah Musik Keroncong

Keroncong dikatakan bermula di Pulau Jawa pada abad ke-16 sewaktu pengaruh Portugis mula bertapak di kawasan Tenggara Asia. Ketika itu, seni muzik gamelan digemari di seluruh Pulau Jawa. Alat-alat muzik Barat telah digunakan untuk memainkan lagu-lagu daerah termasuk gamelan.

Proses penyesuaian ini mengambil masa yang lama. Hasilnya seni muzik keroncong menjadi sempurna pada akhir abad ke-19. Namun begitu corak muzik keroncong ini berubah dari semasa ke semasa.

Bentuk seni keroncong dengan seni muzik gamelan mempunyai beberapa aspek yang hampir sama misalnya rentak dan bentuk melodinya. Muzik gamelan dimainkan dengan cara yang teratur, tetapi muzik keroncong dapat ditokok tambah mengikut perasaan pemain-pemainnya. Alat melodi dan bentuk suara yang digunakan dalam persembahan keroncong juga lebih luas.

Antara alat muzik keroncong ialah biola, seruling, gitar, cello, double-bass, cak, keroncongHawaii, akordian atau vibrofon. mungkin menambah alat-alat lain seperti alat gitar

Muzik keroncong berkembang ke Malaysia dengan kedatangan orang-orang Jawa pada awal abad ke-20. Dikalangan kaum Baba dan Nyonya, lagu keroncong sangat digemari. Di Indonesia, ramai keturunan Cina yang meminati lagu keroncong dan ada antara mereka yang menjadi pencipta terkenal.

Dalam tahun lima puluhan, di negeri Johor khasnya di Johor Bahru telah wujud beberapa buah kumpulan muzik keroncong seperti ‘Suara Timur Keroncong Orkes’ di Kampung Stulang Darat, ‘Pepat Keroncong Party’ di Kampung Tambatan dan Mohd. Amin Johor Bahru, dan ‘Mawar Puteh Keroncong Party’ di Kampung Chik Ami Ngee Heng yang diketui oleh Encik Omar bin Abu Samah.

Pada ketika itu, muzik keroncong biasanya dipersembahkan di majlis jamuan atau pesta. Kini keroncong telah mula bertukar corak, sesuai dengan peredaran masa dan selera terutama cara persembahannya. Gubahan muzik keroncong dibuat untuk permainan pancaragam (orkestra) dan kumpulan gitar rancak.

2.4 Tokoh-Tokoh Keroncong

1. Buaya Keroncong

Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki “Buaya keroncong” oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong.

Asal muasal sebutan itu berkisar pada lagu ciptaannya, Bengawan Solo. Bengawan Solo adalah nama sungai yang berada di wilayah Surakarta. Seperti diketahui, buaya memiliki habitat di rawa dan sungai. Reptil terbesar itu di habitanya nyaris tak terkalahkan, karena menjadi pemangsa yang ganas. Nah kira-kira pengandaian semacam itulah yang mendasari mengapa Gesang disebut sebagai “Buaya Keroncong”

2. Imam D. kamus

Awalnya ia adalah anak band beraliran musik punk. Sambil menenteng biolanya, ia memainkan musik sebagai kesenangan pribadi saja. Mengembara dari satu tempat ke tempat lain, dari satu pelukan jenis musik ke jenis lainnya. Semuanya demi memuaskan keinginan. Kesenangannya pada keroncong, mendorong Imam mendirikan beberapa orkes. Pada 1994, bersama kawan-kawannya di Gelanggang Seni Sastra dan Film (GSSTF) Unpad, ia mendirikan Orkes Keroncong Rindu Order. Ketika Rindu Order vakum pada 1998, tak berapa lama ia dan beberapa anak muda mendirikan Sarekat Krontjong (SK).

3. Tony
Tony adalah pemain musik keroncong berbakat tinggi sekaligus pencipta lagu yang handal. Dia juga yang memacu adik-adiknya untuk membawakan lagu ciptaan sendiri. Dia mahir memainkan gitar (melody), keyboard dan piano. Dibandingkan dengan Beatles, dia seperti gabungan antara John Lennon, Paul dan Goerge. Permainan pianonya sangat menonjol dalam lagu-lagunya. Nada-nada yang dipilihnya sederhana, tetapi sangat berperan dalam mempercantik lagu yang dimainkan.

4. Yon

Yon Koeswoyo adalah Vokalis utama Koes Plus ini tidak menonjol dalam bermain musik. Dia hanya memainkan ritem gitar. Tetapi suaranya yang bening menjadi kekuatan lain dari Koes Plus. Dia juga pencipta lagu yang handal. Kebanyakan lagu-lagu Yon adalah lagu bernada sendu,

5. Murry

Dia adalah plus dalam Koes Plus. Dialah satu-satunya anggota Koes Plus yang bukan dari keluarga Koeswoyo. Pukulan drumnya yang khas telah memberi warna tersendiri bagi Koes Plus. Pukulan drumnya mungkin tidak akan terasa bagus kalau dia bermain dengan kelompok lain. Tetapi digabung dengan permainan keyboard Tonny, pukulannya terasa istimewa. Sebagai pemain drum dia tidak hanya pelengkap. Permainan drumnya menjadi ciri khas dari lagu-lagu Koes Plus.

6. Gerard Mosterd

Kegamangan eksistensi Mosterd yang blasteran itu juga masih mewarnai karya ini. Mosterd yang berayah Belanda dan beribu dari Jawa Timur yang dibesarkan di Sumatera Utara itu pernah belajar balet klasik di Royal Conservatory, Den Haag. Namun, dia juga akrab dengan komunitas kesenian Gugum Gumbira sampai Sardono W Kusumo. Titik temu antara Eropa dan Asia itu boleh jadi adalah keroncong. Setidaknya keroncong muncul dalam dua karya Mosterd yang digelar di Jakarta. Tahun lalu, dia memunculkan Keroncong Moritsku. Mosterd memang tak berkesan mencari titik temu atau sintesa gerak Barat-Timur. Tak ada kesan gerak yang cenderung “menjawa” atau sebaliknya. Dia membiarkan dua latar belakang kultural itu berinteraksi secara natural

7. Andjar Any

Tokoh keroncong asal Solo, Andjar Any (66) yang juga pencipta lagu keroncong yang amat produktif, menyatakan tidak sependapat dengan banyak kalangan yang memprihatinkan masa depan musik keroncong. Katanya, munculnya musik campursari yang pada awalnya berangkat dari musik keroncong (asli/langgam), adalah fitrah dari kreativitas dan kebebasan seni untuk senantiasa melakukan pengembangan.

8. Kusbini

Seniman kelahiran 1 Januari 1910 di Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur ini, memulai kariernya bersama Jong Indisce Stryken Tokkel Orkest (Jitso), sebuah kumpulan musik keroncong di Surabaya. Merasa belum puas dengan pengetahuan musik yang didapatnya secara otodidak, Kusbini mengikuti pendidikan musik Apollo di Malang. Sembari belajar, Kusbini yang mendapat julukan ‘buaya keroncong’ dari teman-temannya ini, terus tampil sebagai penyanyi keroncong dan pemain biola pada siaran Nirom dan Cirvo di Surabaya.

2.5 Jenis-jenis keroncong

Musik keroncong lebih condong pada irama (progresi chord) dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan patern yang berlaku. Jika kemudian akan dikembangkan, maka hendaklah tetap menjaga konsistensi patern tersebut.

Keroncong asli

Keroncong asli memiliki bentuk lagu A – B – C. Kebanyakan dibawakan sebanyak dua kuplet utuh (dari atas). Alur chordnya seperti tersusun di bawah ini:

  • | I , , , | I , , , | v , , , | V , , , | II , , , | II , , , | V , , , | V , , , | V , , , | V , , , |
  • | IV , , ,| IV , , ,|IV , , , | V , , , | I , , , | I , , , | V , , , | V , , , | I , , , | IV , V , |
  • | I , , , | IV , V , | I , , ,| I , , , | V , , , | V , , , | I , , ,|

Keroncong asli terkadang juga di awali oleh prospel terlebih dahulu.Prospel adalah seperti intro yang mengarah ke nada/chord awal lagu, yang dilakukan oleh alat musik melodi seperti seruling/flute, biola, atau gitar.

Langgam

Bentuk lagu langgam ada dua versi. Yang pertama A – A – B – A dengan pengulangan dari bagian A kedua. Beda sedikit pada versi kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan. Penyanyi serba bisa Hetty Koes Endang misalnya, dia sering merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam menggunakan irama yang sama, dan kebanyakan tetap dinamakan langgam. Alur chord-nya sebagai berikut:

  • | I , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | V , , , | I , , , | I , , , |
  • | I , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | V , , , | I , , , | I , , , |
  • |IV , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | II , , , | II , , , | V , , ,| V , , ,|
  • | I , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | V , , , | I , , , | I , , , |

Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa, yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh.

Stambul

Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama “stambul” diambil dari Istambul di Turki.

Stambul memiliki dua tipe progresi akord yang masing-masing disebut sebagai Stambul I dan Stambul II. Stambul diawali oleh penyanyi itu sendiri, atau intro lagu bukan dari alat musik melainkan dari penyanyi tanpa iringan instrumen terlebih dahulu. Contoh: Stb. Jauh Di Mata, Stb.II Dewa-dewi

2.6 Alat-Alat Musik Keroncong

Alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup:

  • Cukulele, gitar akustik kecil berdawai 3 (nylon), urutan nadanya adalah G, B dan E
  • Cak, gitar akustik kecil berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan In F)
  • Gitar akustik
  • Biola
  • Seruling
  • Flute
  • Double Bass
  • Cello
  • Cuk
  • Bass
  • Akordion

Penjaga ritme dipegang oleh cukulele dan bas. Gitar dan bas mengatur peralihan chord. Biola berfungsi menuntun melodi. Flute merupakan hiasan (ornamen) yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong

2.7 Contoh-Contoh Lagu Keroncong

1. Album Title:14 Lagu Cinta Dari Hetty Koes Endang, Artist: HETTY KOES ENDANG, Language:Indonesian.

2. Lagu Caping Gunung, karya Gesang tahun 1973.

3.  Pahlawanku karya Hetty Koes Endang

4.  Suci dalam debu karya Hetty Koes Endang

5.  Bisikan hati karya Hetty Koes Endang

http://nabilahfairest.multiply.com/journal/item/43/seni_musik_-keroncong-

Keroncong

Keroncong adalah sejenis musik Indonesia yang memiliki hubungan historis dengan sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado. Sejarah keroncong di Indonesia dapat ditarik hingga akhir abad ke-16, di saat kekuatan Portugis mulai melemah di Nusantara. Keroncong berawal dari musik yang dimainkan para budak dan opsir Portugis dari daratan India (Goa) serta Maluku. Bentuk awal musik ini disebut moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai.

Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer. Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.
Alat-alat musik keroncong yang sekarang ini lazim dimainkan dalam suatu pertunjukkan musik keroncong adalah Violin (Biola), Seruling (Flute), Cuk (Ukulele), Cak (Tenor Banjo), Gitar, Selo (Cello), dan Double-Bass. Keroncong mungkin menambah alat-alat lain seperti alat gitar Hawaii, akordian atau vibrofon.

Di Indonesia kita mengenal pencipta lagu keroncong yang ternama di antaranya Ismail Marzuki, Gesang R. Maladi, Oey Yok Siang, R. Sutedjo, Arimah, Budiman B. J., S. Padimin, L. Hidayat, S. Poniman, Teruma Hadi, Iskandar dan Mochtar Embut dan pada masa sekarang Soeharto A. H., Riyanto. Tentunya kita tidak melupakan sosok Waljinah dan Mus Mujiyanto, penyanyi dan musisi keroncong yang terkenal itu.

Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki “Buaya Keroncong” oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong.
Asal muasal sebutan “Buaya Keroncong” berkisar pada lagu ciptaannya, Bengawan Solo. Bengawan Solo adalah nama sungai yang berada di wilayah Surakarta. Seperti diketahui, buaya memiliki habitat di rawa dan sungai. Reptil terbesar itu di habitanya nyaris tak terkalahkan, karena menjadi pemangsa yang ganas. Pengandaian semacam itulah yang mendasari mengapa Gesang disebut sebagai “Buaya Keroncong”.

Keroncong di Malaysia

Di Malaysia musik keroncong ramai dimainkan oleh para pekerja buruh dari Indonesia, terutama dari Jawa. Penduduk dari Jawa, tidak ketinggalan juga membawa bersama kesenian termasuk seni musik gamelan, musik untuk wayang kulit, kuda kepang, barongan, hamdulok, katoprak, silat dan sebagainya.
Sejak mulai masuknya musik keroncong di Semenanjung Malaya (Malaysia) pada penghujung abad 19 oleh orang-orang dari Indonesia, khususnya dari Jawa yang bekerja di sana, keroncong pun mulai berkembang dan mulai diminati oleh penduduk setempat.
Di kalangan kaum Baba dan Nyonya, lagu keroncong sangat digemari. Di Indonesia, ramai keturunan Cina yang meminati lagu keroncong dan ada antara mereka yang menjadi pencipta terkenal.
Kawasan-kawasan yang banyak terdapat kegiatan musik keroncong adalah di tempat-tempat di mana terdapat ramai orang Jawa dan keturunannya seperti di negeri Johor, di pantai barat negeri Selangor dan Perak.
Pada mulanya lagu-lagu keroncong yang dimainkan oleh orang setempat adalah lagu-lagu yang berasal dari Indonesia. Akan tetapi lama-kelamaan, setelah Perang Dunia Kedua, ada pencipta lagu yang mencipta lagu-lagu keroncong bercorak Melayu seperti Zubir Said, Ahmad Jaafar, P. Ramlee, Mohd. Wan Yet, Johar Bahar, Sudar Mohammad, Zainal Ibrahim dan pada akhir-akhir ini Mahzan Manan dan Ariff Ahmad.
Pada tahun lima puluhan, di negeri Johor khususnya di Johor Bahru telah terbentuk beberapa grup musik keroncong seperti ‘Suara Timur Keroncong Orkes’ di Kampung Stulang Darat, ‘Pepat Keroncong Party’ di Kampung Tambatan dan Mohd. Amin Johor Bahru, dan ‘Mawar Puteh Keroncong Party’ di Kampung Chik Ami Ngee Heng yang diketui oleh Encik Omar bin Abu Samah.
Ketika itu, musik keroncong biasanya dipersembahkan di majelis jamuan atau pesta. Kini keroncong telah mulai bertukar corak, sesuai dengan peredaran masa dan selera terutama cara persembahannya. Gubahan musik keroncong dibuat untuk permainan pancaragam (orkestra) dan kumpulan gitar rancak.
Di Malaysia program pengembangan musik keroncong telah dilaksanakan sejak tahun 1997. Program ini bermula dengan pengambilan 5 orang tenaga pengajar keroncong dari Indonesia. Dari sini muncul pembentukan bengkel-bengkel musik atau tempat latihan musik keroncong. Bengkel ini telah diadakan dengan peresmiannya pada 15-18 Juni 1999 di Pusat Kegiatan Seni, YWJ.
Bengkel-bengkel musik keroncong itu pun melahirkan banyak grup musik keroncong di beberapa buah daerah, antara lain di Johor seperti Batu Pahat, Johor Bahru, Kluang, Kota Tinggi, Pontian, Mersing dan Segamat.
Sepanjang tahun 2000, sering diselenggarakan pertandingan musik keroncong dan nyanyian lagu-lagu keroncong di seluruh daerah negeri Johor oleh Dewan Kesenian di sana, yakni yayasan Warisan Johor. Setiap tahun perlombaan keroncong semacam ini rutin dilaksanakan.
Hal itu sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan musik keroncong di Malaysia. Melalui langkah-langkah yang inovatif, kreatif dan berkelanjutan, dengan didukung oleh semua pihak diharapkan musik keroncong akan muncul sebagai musik alternative yang banyak digemari.

Keroncong di Indonesia

Mengamati kondisi musik keroncong yang mulai memudar di Indonesia, khususnya di Semarang, seperti yang dituturkan oleh Atun Tias dan Bob Sartomo di atas, rasa-rasanya sulit sekali mengembalikan kejayaan keroncong seperti pada masa emasnya, sekitar tahun 60-an. Keprihatinan seperti itu pastinya akan mencuat manakala membandingkan dengan perkembangan keroncong di Malaysia.

RRI yang dahulu sangat santer memperdengarkan lagu-lagu keroncong, kini hanya menyediakan waktu satu jam dalam satu minggu untuk memutar lagu keroncong. Saat ini kita dapat mendengar lagu-lagu keroncong setiap hari Minggu pukul 14.00-15.00 di RRI Semarang. Hal ini sebagai pertanda sedikitnya (menurunnya) minat masyarakat terhadap musik keroncong.
Dengan demikian saat ini di Indonesia keroncong sedang mengalami fase reduksi. Berbeda di Malaysia yang sedang dalam fase perkembangan ke arah yang diharapkan, yakni keroncong digemari oleh penduduknya seiring pembinaan yang berkelanjutan dengan diadakannya perlombaan-perlombaan musik keroncong.
Jika keadaan ini dibiarkan begitu saja, dan kita sama-sama menutup mata, maka jangan kaget kalau suatu saat nanti keroncong dijadikan ikon pariwisata dan kebudayaan Malaysia, persis yang terjadi pada Reog Ponorogo yang diklaim sebagai kesenian barongan.

Yu Atun dan Bob Sartomo muda harus dirangsang untuk mulai eksis menggeluti musik keroncong. Generasi muda yang nanti memegang tongkat estafet pengembangan segala sesuatu yang ada di negeri ini, termasuk musik keroncong, harus mulai bergeliat menumbuhkembangkan bakat dan minat yang dimiliki, khususnya di bidang musik keroncong.

Pemerintah dan masyarakat juga perlu ikut campur tangan agar musik keroncong tetap eksis. Jangan sampai kita berguru pada Malaysia untuk dapat belajar musik keroncong, padahal dulu Malaysia mendatangkan guru keroncong dari Indonesia. Berjayalah musik Keroncong Indonesia.

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com

Keroncong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Orkes Keroncong di Belitung

Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik keroncong, flute, dan seorang penyanyi wanita.

Asal-usul

Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya[1]. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.

Alat-alat musik

Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai. Set orkes semacam ini masih dipakai oleh keroncong Tugu, bentuk keroncong yang masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir oleh orang Betawi berbaur dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1920-1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa.

Pem-“pribumi”-an keroncong menjadikannya seni campuran, dengan alat-alat musik seperti

Saat ini, alat musik yang dipakai dalam orkes keroncong mencakup

  • ukulele cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E; sebagai alat musik utama yang menyuarakan crongcrong sehingga disebut keroncong (ditemukan tahun 1879 di Hawai, dan merupakan awal tonggak mulainya musik keroncong)
  • ukulele cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis, dan B. Jadi ketika alat musik lainnya memainkan tangga nada C, cak bermain pada tangga nada F (dikenal dengan sebutan in F);
  • gitar akustik sebagai gitar melodi, dimainkan dengan gaya kontrapuntis (anti melodi);
  • biola (menggantikan Rebab);
  • flut (mengantikan Suling Bambu);
  • selo; betot menggantikan kendang
  • kontrabas (menggantikan Gong)[2]

Penjaga irama dipegang oleh ukulele dan bas. Gitar yang kontrapuntis dan selo yang ritmis mengatur peralihan akord. Biola berfungsi sebagai penuntun melodi, sekaligus hiasan/ornamen bawah. Flut mengisi hiasan atas, yang melayang-layang mengisi ruang melodi yang kosong.

Bentuk keroncong yang dicampur dengan musik populer sekarang menggunakan organ tunggal serta synthesizer untuk mengiringi lagu keroncong (di pentas pesta organ tunggal yang serba bisa main keroncong, dangdut, rock, polka, mars).

Jenis keroncong

Musik keroncong lebih condong pada progresi akord dan jenis alat yang digunakan. Sejak pertengahan abad ke-20 telah dikenal paling tidak tiga macam keroncong, yang dapat dikenali dari pola progresi akordnya. Bagi pemusik yang sudah memahami alurnya, mengiringi lagu-lagu keroncong sebenarnya tidaklah susah, sebab cukup menyesuaikan pola yang berlaku. Pengembangan dilakukan dengan menjaga konsistensi pola tersebut. Selain itu, terdapat pula bentuk-bentuk campuran serta adaptasi.

Perkembangan keroncong masa kini

Setelah mengalami evolusi yang panjang sejak kedatangan orang Portugis di Indonesia (1522) dan pemukiman para budak di daerah Kampung Tugu tahun 1661, dan ini merupakan masa evolusi awal musik keroncong yang panjang (1661-1880), hampir dua abad lamanya, namun belum memperlihatkan identitas keroncong yang sebenarnya dengan suara crong-crong-crong, sehingga boleh dikatakan musik keroncong belum lahir tahun 1661-1880.

Dan akhirnya musik keroncong mengalami masa evolusi pendek terakhir sejak tahun 1880 hingga kini, dengan tiga tahap perkembangan terakhir. Tonggak awal adalah pada tahun 1879 [3], di saat penemuan ukulele di Hawai yang segera menjadi alat musik utama dalam keroncong (suara ukulele: crong-crong-crong). Ketiga tahap tersebut adalah[4]

(a) Masa stambul (1880-1920),

(b) Masa keroncong abadi (1920-1960), dan

(c) Masa keroncong modern (1960-kini).

Masa stambul (1880-1920)

Ukulele ditemukan pada tahun 1879 di Hawaii, sehingga diperkirakan pada tahun berikutnya Keroncong baru menjelma pada tahun 1880, di daerah Tugu kemudian menyebar ke selatan daerah Kemayoran dan Gambir (lihat ada lagu Kemayoran dan Pasar Gambir, sekitar tahun 1913). Komedie Stamboel 1891-1903 lahir di Kota Pelabuhan Surabaya tahun 1891, berupa Pentas Gaya Instanbul, yang mengadakan pertunjukan keliling di Hindia Belanda, Singapura, dan Malaya lewat jalur kereta api maupun kapal api. Pada umumnya pertunjukan meliputi Cerita 1001 Malam (Arab) dan Cerita Eropa (Opera maupun Rakyat), termasuk Hikayat India dan Persia. Sebagai selingan, antar adegan maupun pembukaan, diperdengarkan musik mars, polka, gambus, dan keroncong. Khusus musik keroncong dikenal pada waktu itu Stambul I, Stambul II, dan Stambull III.

Pada waktu itu lagu Stambul berirama cepat (sekitar meter 120 untuk satu ketuk seperempat nada), di mana Gesang menyebut sebagai Keroncong Cepat, dan berbaur dengan Tanjidor yang asli Betawi. Pada masa ini dikenal para musisi Indo, dan pemain biola legendaris adalah M. Sagi (perhatikan rekaman Idris Sardi main biola lagu Stambul II Jali-jali berdasarkan aransemen dari M. Sagi). Seperti diketahui bahwa panjang lagu stambul adalah 16 birama, yang terdiri atas:

Stambul I: Lagu ini misalnya Terang Bulan, Potong Padi, Nina Bobo, Sarinande, O Ina Ni Keke, Bolelebo, dll. dengan struktur bentuk A – B – A – B atau A – B – C – D (16 birama):

  • |I , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |
  • |, , , , |, , , , |, , , , |I , , , |
  • |I7, , , |IV, , , |, , V7, |I , , , |
  • |, , , , |V7, , , |, , , , |I , , , ||

Stambul II: Lagu ini misalnya Si Sampang, Jali-Jali, di mana masuk pada Akord IV sebagai ciri Stambul II dengan struktur A – B – A – C (16 birama):

  • |I . . . |. . . . |. . . . |IV, , , | (tanda . artinya tacet)
  • |, , , , |, , , , |, , V7, |I , , , |
  • |, , , , |, , , , |, , , , |V7, , , |
  • |, , , , |, , , , |, , , , |I , , , ||

Stambul III: Lagu ini misalnya Kemayoran, di mana mirip dengan Keroncong Asli sehingga sering salah diucapkan dengan Kr. Kemayoran, yang seharusnya Stambul III Kemayoran, dengan struktur Prelude – A – B – Interlude – C – D (16 birama):

  • |I , , , |, , , , | Prelude 2 birama
  • |, , , , |, , , , |
  • |II#, , ,|V7, , , | Modulasi 2 birama
  • |, , , , |IV, , , | Interlude 2 birama
  • |, , V7, |I , , , |
  • |, , , , |V7, , , |
  • |, , , , |I , , , ||

Dari periode stambul ini lahir pula di Makassar bentuk keroncong khas yang dikenal sebagai losquin.

Masa keroncong abadi (1920-1960)

Pada masa ini panjang lagu telah berubah menjadi 32 birama, akibat pengaruh musik pop Amerika yang melanda lantai dansa di Hotel2 Indonesia pada waktu itu, dengan musisi didominasi dari Filipina (spt Pablo, Sambayon, dll), dan berakibat juga lagu pada waktu itu telah 32 birama juga, perhatikan lagu Indonesia Raya (1924) pada waktu itu juga sudah 32 birama. Selanjutnya pusat perkembangan beralih ke Solo dan iramanya juga lebih lamban (sekitar 80 untuk seperempat nada). Masa ini lahir para musisi Solo spt Gesang. Lagu Keroncong Abadi terdiri atas:

Langgam Keroncong: Bentuk lagu langgam ada dua versi. Yang pertama A – A – B – A dengan pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar pop: Verse A – Verse A – Bridge B – Verse A, panjang 32 birama. Beda sedikit pada versi kedua, yakni pengulangannya langsung pada bagian B. Meski sudah memiliki bentuk baku, namun pada perkembangannya irama ini lebih bebas diekspresikan. Penyanyi serba bisa Hetty Koes Endang misalnya, dia sering merekam lagu-lagu non keroncong dan langgam menggunakan irama yang sama, dan kebanyakan tetap dinamakan langgam. Alur akord-nya sebagai berikut:

  • Verse A | V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
  • Verse A |V7 , , , | I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |
  • Bridge B |I7 , , , |IV , , , | IV , V , | I , , , | I , , , | II# , , , | II# , , , | V , , ,|
  • Verse A |V7 , , , |I , , , | IV , V7 , | I , , , | I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , , , |

Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa, yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa antara lain lagu Yen Ing Tawang ciptaan [[Anjar Any]) lahir setelah tahun 1955, dan penyanyi yang terkenal dengan langgam jawa adalah Waljinah bintang Lomba Lagu Kembang Kacang di Surakarta tahun 1960. Langgam Jawa memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh. Tahun 1980 Langgam Jawa berkembang menjadi Campursari.

Stambul Keroncong: Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi stambul. Nama “stambul” diambil dari Istambul di Turki.

Alur akord Stambul Keroncong adalah sbb. (tanda – adalah tacet atau iringan tidak dibunyikan):

  • |I – – – | – – – – | – – – – |IV , , , | dibuka dg broken chord I utk mencari nada
  • |IV , , , |IV , , , |IV , V ,|I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
  • |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |IV , , , | 16 birama ini pengulangan dari 16 birama pertama atau sama
  • |IV , , , |IV , , , |IV , V , |I , , , |
  • |I , , , |I , , , |I , , , |V , , , |
  • |V , , , |V , , , |V , , , |I , , , |

Keroncong Asli Keroncong asli memiliki bentuk lagu A – B – B’. Lagu terdiri atas 8 baris, 8 baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka dengan PRELUDE 4 birama yang dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi INTERLUDE standar sebanyak 4 birama yang dimainkan secara instrumental juga. Keroncong asli diawali oleh voorspel atau prelude, atau intro yang diambil dari baris 7 (B3) mengarah ke nada/akord awal lagu, yang dilakukan oleh alat musik melodi seperti seruling/flut, biola, atau gitar; dan tussenspel atau interlude atau intermezzo di tengah-tengah setelah modulasi/modulatie/modulation yang standar untuk semua keroncong asli: Alur akordnya seperti tersusun di bawah ini:

  • |V , , , |I , I7 , |IV , V7 , |I , , , | prelude 4 birama diambil dari baris ke-7 (B3)
  • (A1) | I , , , | I , , , | V , , , | V , , , |
  • (A2) |II# , , , | II# , , , | V , , , | modulasi merupakan ciri keroncong asli sebanyak 4 birama
  • |V , , , | V , , , | V , , , |IV , , , | interlude 4 birama untuk semua lagu menjadi standar
  • (B1) | IV , , ,| IV , , ,|V7 , , , | I , , , |
  • (B2) |I , , , | V7 , , , | V7 , , , | I , I7 , |
  • (B3) |IV , V7 , |I , I7 , | IV , V7 , |I , , , |
  • (B2) | I , , , | V7 , , , | V7 , , ,| I , , , |

Kadensa Keroncong Kadensa adalah suatu rangkaian harmoni sebagai penutup pada akhir melodi atau di tengah kalimat, sehingga bisa menutup sempurna melodi tersebut atau setengah menutup (sementara) melodi tersebut. Pada Masa Keroncong Abadi dikenal rangkaian penutup I7-IV-V7-I.

  1. Kadensa dengan rangkaian V7-I disebut sebagai Kadensa Sempurna, karena sempurna menutup rangkaian tersebut dan terasa berhenti sempurna.
  2. Tetapi kalau akord X-V7 menjadi akhir rangaian, maka disebut Kadensa Tidak Sempurna atau Setengah Kadensa, misalnya rangkaian Super Tonik – Dominan Septim.
  3. Kalau rangkaian harmoni diakhiri pada X-VI, maka disebut Kadensa Terputus, misalnya Doninan Septim – Submedian.
  4. Dalam rangkaian IV-I disebut Kadensa Plagal, mempunyai sifat sendu seperti kalau kita mengucap “Amin” dalam sholat.
  5. Kadensa Keroncong, khusus dikembangkan dalam musik keroncong, yaitu rangkaian harmoni I7-IV-V7-I

Masa keroncong modern (1960-kini)

Perkembangan keroncong masih di daerah Solo dan sekitarnya, namun muncul berbagai gaya baru yang berbeda dengan Masa Keroncong Abadi (termasuk musisinya), dan merupakan pembaruan sesuai dengan lingkungannya.

Langgam Jawa

Umumnya mempunyai struktur lagu pop yaitu A – A – B – A atau juga A – B – C – D dangan jumlah 32 birama. Lagu Langgam Jawa yang terkenal di tahun 1958 adalah ciptaan Anjar Any (1936-2008): Yen Ing Tawang Ana Lintang (Tawang dalam Bahasa Jawa berarti: awang-awang, langit, dan makna lain nama suatu desa di Magetan, Kalau di Langit Ada Bintang). Langgam Jawa menjadi terkenal oleh Waljinah yang pernah sebagai juara tingkat sekolah SMP di RRI Solo tahun 1958.

Keroncong Beat

Dimulai oleh Yayasan Tetap Segar pimpinan Rudy Pirngadie, di Jakarta pada tahun 1959 dan bisa mengiringi lagu barat pop (mau melangkah lebih bersifat universal). Pada waktu itu Idris Sardi ikut tur ke New York World’s Fair Amerika Serikat dengan biola tahun 1964 dengan maksud mau memperkenalkan lagu pop barat (I left my heart in San Fransico, pada waktu itu tahun 1964 lagu ini merupakan salah satu hit di dunia) dengan iringan keroncong beat, namun dia kena denda melanggar hak cipta akibat tanpa izin.

Dengan Keroncong Beat maka berbagai lagu (bukan dengan rangkaian harmoni keroncong, termsuk kunci Minor) dapat dinyanyikan seperti La Paloma, Monalisa, Widuri, Mawar Berduri, dll.

Campur Sari

Di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) pada tahun 1968 Manthous memperkenalkan gabungan alat gamelan dan musik keroncong, yang kemudian dikenal sebagai Campursari. Kini daerah Solo, Sragen, Ngawi, dan sekitarnya, terkenal sebagai pusat para artis musik campursari. Bahkan Bupati Sukoharjo ikut meramaikan bursa campursari.

Keroncong Koes-Plus

Koes Plus dikenal sebagai perintis musik rock di Indonesia, pada sekitar tahun 1974 juga berjasa dalam musik keroncong yang rock. Keroncong Pertemuan adalah Keroncong Koes Plus dengan struktur bentuk campuran (dalam bahasa Belanda disebut Meng-vorm atau Inggris Combine form) antara Stambul II dan Keroncong Asli.

Seandainya band rock Indonesia bisa mengikuti jejak Koes-Plus untuk melestarikan budaya sendiri seperti keroncong, maka betapa indah musik rock Indonesia dapat ngetop dengan irama kampung halaman, berarti musik keroncong jangan mati (ucapan Gesang). Mudah-mudahan Mbah, generasi muda Indonesia dapat melanjutkan musik keroncong .

Keroncong Dangdut (Congdut)

Keroncong dangdut (Congdut) adalah jawaban atas derasnya pengaruh musik dangdut dalam musik populer di Indonesia sejak 1980-an. Seiring dengan menguatnya campur sari di pentas musik populer etnis Jawa, sejumlah musisi, konon dimulai dari Surakarta, memasukkan unsur beat dangdut ke dalam lagu-lagu langgam Jawa klasik maupun baru. Didi Kempot adalah tokoh utama gerakan pembaruan ini. Lagu-lagu yang terkenal antara lain Stasiun Balapan, Sewu Kuto.

Tokoh keroncong

Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki kontribusi cukup besar dalam membesarkan musik keroncong adalah bapak Gesang. Lelaki asal kota Surakarta (Solo) ini bahkan mendapatkan santunan setiap tahun dari pemerintah Jepang karena berhasil memperkenalkan musik keroncong di sana. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah Bengawan Solo. Lantaran pengabdiannya itulah, oleh Gesang dijuluki “Buaya Keroncong” oleh insan keroncong Indonesia, sebutan untuk pakar musik keroncong. Gesang menyebut irama keroncong pada MASA STAMBUL (1880-1920), yang berkembang di Jakarta (Tugu , Kemayoran, dan Gambir) sebagai Keroncong Cepat; sedangkan setelah ousat perkembangan pindah ke Solo (MASA KERONCONG ABADI: 1920-1960) iramanya menjadi lebih lambat.

Di sisi lain nama Anjar Any (Solo, pencipta Langgam Jawa lebih dari 2000 lagu yang meninggal tahun 2008) juga mempunyai andil dalam keroncong untuk Langgam Jawa beserta Waljinah (Solo), sedangkan R. Pirngadie (Jakarta) untuk Keroncong Beat, Manthous (Gunung Kidul, Yogyakarta) untuk Campursari dan Koe Plus (Solo/Jakarta) untuk Keroncobg Rock, serta Didi Kempot (Ngawi) untuk Congdut.

Trivia

  • Asal muasal sebutan “Buaya Keroncong” berkisar pada lagu ciptaannya, Bengawan Solo. Bengawan Solo adalah nama sungai yang berada di wilayah Surakarta. Seperti diketahui, buaya memiliki habitat di rawa dan sungai. Reptil terbesar itu di habitanya nyaris tak terkalahkan, karena menjadi pemangsa yang ganas. Pengandaian semacam itulah yang mendasari mengapa Gesang disebut sebagai “Buaya Keroncong”.

Pranala luar

Referensi

  1. ^ “Seni Muzik Keroncong”, Penerbit UKM, diakses Juni 2007
  2. ^ “SYNCRETIC SONG BASED FORMS: Keroncong”, Musical Malaysia, diakses Juni 2007
  3. ^ Sejarah ditemukan Ukulele di Hawai: A Little Uke History: ORIGINS AND LEGENDS [1]
  4. ^ Sunaryo Joyopuspito, MUSIK KERONCONG: Suatu Analisis Berdasarkan Teori Musik, Bina Musik Remaja – Jakarta 2006.

Gambar alat musik keroncong

2 Tanggapan to “Musik Keroncong”

  1. apakh cara bermain violin untuk keroncong .. sila terangkan dengan jelas

    • Terima kasih atas perhatiannya, secara umum permainan violin pada musik keroncong menggunakan teknik yang sama dengan vokalnya. Ini dikarenakan violin sebagai alat musik melodis. Mulai dari teknik nggandul, cengkok nadanya serta teknik portamento-nya. Hanya saja, supaya tidak overlap dengan vokal, maka penempatan suara violin biasanya pada intro, interlude, serta filler atau isian melodi diantara vokal. Demikian yang bisa saya jelaskan, mohon maaf kalau masih banyak kekurangan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: